Guru PAUD Tubaba Dibekali Strategi “Deep Learning”
Tulang Bawang Barat, hariansatelit.com
Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) menggelar Workshop Peningkatan Kompetensi Guru PAUD dalam Pembelajaran Literasi dan Numerasi Tahun 2026. Kegiatan di Aula Lantai III Sekretariat Pemkab setempat pada Senin (11/05/2026).
Ketua I TP PKK Tubaba, Ny. Ana Nadirsyah, menyoroti tantangan berat dunia pendidikan di era digital. Ia mengungkapkan kekhawatiran terhadap fenomena schooling without learning, di mana proses sekolah berjalan namun tidak menghasilkan pemahaman yang bermakna bagi anak.
“Anak-anak generasi sekarang tumbuh dalam arus informasi yang sangat cepat. Mereka terbiasa scrolling dan multitasking, namun seringkali kehilangan fokus dan mengalami penurunan kemampuan bersosialisasi,” ujar Ny. Ana Nadirsyah.
Menyikapi hal tersebut, ia menekankan pentingnya pendekatan Deep Learning atau pembelajaran mendalam yang mencakup tiga elemen utama: Mindful (berkesadaran), Meaningful (bermakna), dan Joyful (menggembirakan).
Selain aspek kognitif, workshop ini menekankan pada penguatan 5 Pilar Karakter Tubaba sebagai identitas daerah yang harus ditanamkan sejak dini: pertama, cinta Tuhan dan Ciptaan-Nya: Membangun rasa syukur dan kasih sayang. Kedua, disiplin: Membiasakan antre dan mengikuti aturan secara sadar dan menyenangkan.
Kemudian ketiga, sopan Santun: Mengedepankan keteladanan dalam berkata baik dan menghormati sesama. Ke empat kerja Sama: Menumbuhkan jiwa gotong royong dan kepedulian sosial dan ke lima cinta Tanah Air & Lingkungan: Mengenalkan budaya lokal dan kepedulian terhadap kebersihan.
Lebih lanjut, narasumber dari BGTK, Nasib Wasito, S.E., M.Pd., membedah kekeliruan yang sering terjadi di lapangan, khususnya mengenai cara mengajarkan baca-tulis. Menurutnya, banyak guru dan orang tua yang terjebak pada metode hafalan abjad A-Z sejak awal.
“Membaca itu proses sistematis. Tahapannya dimulai dari membedakan bunyi, baru kemudian membunyikan lambang gambar, hingga akhirnya mengenal huruf. Jangan paksa anak menghafal tanpa mereka paham bunyinya,” jelas Nasib. Ia juga mengingatkan pentingnya melatih kemampuan sensori motorik anak melalui bermain sebelum masuk ke ranah akademik yang lebih berat.
Kegiatan ini juga menggarisbawahi pentingnya parenting skill. Pendidikan anak usia dini tidak dapat sukses jika sekolah dan keluarga berjalan sendiri-sendiri. “Orang tua adalah sekolah pertama bagi anak, sedangkan guru adalah mitra utama. Keselarasan keduanya adalah kunci generasi emas Tubaba,” pungkas Ny. Ana Nadirsyah menutup sambutan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Dharma Wanita Persatuan Ny. Desliana Iwan Mursalin, Fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak Ibu Bekti Prastyani, serta para pengurus IGTK-PGRI, Himpaudi, IGRA, IGABA, dan Korwasda se-Kabupaten Tubaba. (Joli)
