Minggu, September 27, 2026
Lampung Timur

APIK Dorong Kakao Lampung Timur Berbasis Petani

Lampung Timur, hariansatelit.com

Penguatan sektor kakao di Kabupaten Lampung Timur membutuhkan langkah bersama yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga menyentuh kualitas, pengolahan, kelembagaan, hingga akses pasar. Hal tersebut mengemuka dalam Workshop Akselerasi Transformasi Kakao Lampung Timur Berbasis Petani dan Kolaborasi Multi Pihak yang Inklusif, yang digelar Asosiasi Petani Kakao (APIK) Lampung Timur, Senin (24/9/2026), di Aula Utama Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Timur.

Sementara itu, dalam sambutan Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah yang disampaikan Asisten III, Saka, ditegaskan bahwa pengembangan kakao di Lampung Timur masih menghadapi sejumlah tantangan.

“Produktivitas yang belum optimal, tanaman yang sudah tua, serangan hama dan penyakit, keterbatasan penerapan praktik budidaya yang baik, kelembagaan petani yang masih perlu diperkuat, serta keterbatasan akses terhadap sarana produksi, pembiayaan dan pasar merupakan persoalan yang harus kita hadapi secara bersama-sama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, transformasi kakao harus dipahami sebagai proses perubahan yang terencana, menyeluruh, dan berkelanjutan. Karena itu, pengembangan kakao tidak cukup hanya dengan meningkatkan luas maupun produksi, tetapi harus dilakukan dari hulu hingga hilir.

Langkah tersebut antara lain melalui peremajaan tanaman, penggunaan bahan tanam unggul dan bersertifikat, penerapan praktik budidaya yang baik, pengendalian hama dan penyakit, peningkatan kapasitas petani, perbaikan penanganan pascapanen, peningkatan mutu biji kakao, penguatan kelembagaan, hingga perluasan akses pasar dan pengembangan produk bernilai tambah.

“Seluruh mata rantai tersebut harus diperkuat secara bersama-sama agar kakao Lampung Timur mampu berkembang secara berkelanjutan,” lanjutnya.

Penguatan kelembagaan petani juga menjadi bagian penting dalam transformasi tersebut. Kelompok tani diharapkan tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi mampu berkembang menjadi kelembagaan ekonomi yang dapat melakukan agregasi produksi, pengadaan sarana produksi, pengelolaan hasil, pengolahan, pemasaran, hingga negosiasi dengan pembeli.

“Semua kekuatan tersebut harus dipertemukan. Kita tidak ingin setiap pihak berjalan sendiri-sendiri. Kita ingin membangun satu ekosistem kakao Lampung Timur yang saling terhubung,” ungkapnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lampung Timur, Eko, dalam laporannya menyampaikan bahwa pengembangan kakao harus berangkat dari kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi petani.

Menurutnya, tantangan sektor kakao tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Diperlukan keterlibatan pemerintah, petani, dunia usaha, lembaga pendamping, serta pemangku kepentingan lainnya agar intervensi yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan. (Nasir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *