Sabtu, September 19, 2026
Bandar Lampung

ARTIKEL TENTANG KARANG TARUNA DESA REJOMULYO DI DORONG MENJADI PENGGERAK PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT

Dosen : Dra. Wisnaningsih, S.T., M.T.A

Disusun oleh :

Noviyanti                                 NPM : 2361201007P

Muhammad Fikri Mahfudh NPM ; 23612010036P

Izwarul Hassaidi                    NPM : 24612010001P

M. Alfrido Budiharja S          NPM : 24742010006R

UNIVERSITAS SANG BUMI RUWA JURAI KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2026KARANG TARUNA REJOMULYO DIDORONG MENJADI PENGGERAK PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT

Lampung Selatan — Pengelolaan lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, termasuk generasi muda. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai dalam melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Desa Rejomulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.

Melalui kegiatan sosialisasi dan diskusi bersama masyarakat, mahasiswa memperkenalkan konsep pengelolaan sampah terpadu kepada kelompok pemuda dan Karang Taruna.

Konsep yang diperkenalkan menempatkan pemilahan sampah sebagai tahap awal. Sampah kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis dan potensi pemanfaatannya. Sampah organik diarahkan untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan pendukung budidaya maggot, sedangkan sampah yang tidak dapat dimanfaatkan memerlukan penanganan lebih lanjut.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga memperkenalkan konsep penggunaan teknologi sederhana berupa insinerator untuk penanganan sampah residu. Pengenalan teknologi dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan dan prosedur penggunaan.

Karang Taruna dipandang memiliki potensi untuk berperan dalam pengelolaan kegiatan karena kelompok pemuda dapat menjadi penghubung antara konsep yang telah disusun dengan pelaksanaan di masyarakat.

Mahasiswa juga mengajak peserta untuk melihat pengelolaan sampah dari sisi produktivitas. Sampah organik yang dikelola dapat mendukung kegiatan budidaya maggot, sedangkan hasil budidaya berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *