Penambangan Galian Tanah Diduga Tanpa Izin di Hutan Register 40 Desa Sumberjaya
Jati Agung, hariansatelit.com
Aktivitas galian tanah yang diduga merupakan penambangan tanpa izin di tanah hutan Register 40, terjadi tak jauh dari kantor Desa Sumberjaya, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Rabu (16/9/2026) pagi, terlihat kegiatan pengerukan tanah menggunakan alat berat.
Sejumlah mobil truk juga tampak antre untuk mengangkut material dari area tersebut.
Aktivitas itu berlangsung di lahan terbuka bersebelahan dengan makan Dusun 1 A Desa Sumberjaya yang sebelumnya merupakan kawasan hijau.
Suara mesin alat berat dan kendaraan terdengar cukup keras di sekitar lokasi.

Warga yang enggan disebut namanya menceritakan aktivitas pengerukan tanah menggunakan alat berat excavator di lahan milik Ali warga Dusun Sukamaju, Desa Sinar Rejeki.
Aktivitas tersebut terlihat cukup masif meski baru berjalan dalam waktu relatif singkat. Selain itu, warga menilai pengerukan tanah telah mengubah kondisi lahan di lokasi kegiatan.
Warga menyebut kegiatan penggalian tanah dilakukan dengan alasan pembuatan kolam. Namun demikian, mereka menduga pelaksana kegiatan juga mengambil dan menjual material tanah urug dari lokasi tersebut ke luar desa.
Masih menurut warga, area yang telah mengalami pengerukan terlihat cukup luas. Karena itu, masyarakat mempertanyakan legalitas kegiatan yang berlangsung di lokasi tersebut.
Di lapangan, alat berat excavator tampak melakukan pengerukan tanah secara terus-menerus.
Warga juga mengaku melihat mobilitas kendaraan pengangkut tanah berlangsung cukup tinggi.

Kepala Desa Sumberjaya Idham mengaaku tidak tahu ada galian tanah di desa yang dipimpinnya.
Dia menjelaskan dari desa tidak mengeluarkan izin untuk galian tanah.
Sementara itu, pemilik tanah Ali warga Dusun Sukamaju A, Desa Sunar Rejeki mengaku menyewa alat berat dari Kota Metro. “Mahal itu biaya sewanya. Satu jam Rp 500 ribu,” ucapnya.
Dia mengaku tanah rersebut untuk nimbun halaman mushola yang ga jauh dari lokasi.
“Warga minta timbunan tanah untuk mushola, ya kita kirim 5 mobil,” kata Ali.
Namun begitu dicek ke mushola hanya 1 mobil yang dikirim. Begitu ditanya melalui WhatsApp timbunan yang dikirim ke moshola hanya satu mobil, yang lain dikirim kemana pak Ali, sayang Ali tidak mau menjawab. (Mar)
