Rabu, Februari 4, 2026
Pringsewu

KKNT Inovasi IPB University Olah Limbah MOCAF Jadi Produk Bernilai Guna

 

Pringsewu Hariansatelit.com

Melalui program SOCAF ,mahasiswa KKN  mendorong pengelolaan Limbah Produksi singkong sekaligus mendukung peternak di Kabupaten Pringsewu.

Koordinator Tim KKN IPB kepada media ini mengatakan, bahwa Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University  di Pekon Adiluwih Kecamatan Adiluwih Kabupaten Pringsewu,Lampung telah menghadirkan inovasi pengelolaan lingkungan melalui pemanfaatan limbah cair MOCAF (Modified Cassava Flour).

Program ini berangkat dari permasalahan bau dan potensi pencemaran lingkungan akibat limbah cair produksi MOCAF yang selama ini belum tertangani secara optimal.

Dan melalui kegiatan sosialisasi dan Demonstrasi bertajuk SOCAF (Suplemen Organik Cair dari Limbah Cair MOCAF) tim KKNT memperkenalkan hasil pengelolaan limbah cair MOCAF kepada masyarakat pada tanggal 6,januari 2026 yang lalu, di gedung serba guna (GSG) Pekon setempat yang di ketuai oleh M. Recky Renaldy dan menyasar para peternak ruminansia khususnya pemilik Sapi, kambing dan domba wilayah Pekon Adiluwih.

SOCAF yang dihasilkan memiliki pH 3,8 sehingga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi langsung oleh ternak .Oleh karena itu ,tim KKNT mengembanhkan pemanfaatan  SOCAF sebagai strarter alami dalam pembuatan dedak aromatik, bukan sebagai pakan tunggal.

Dedak aromatik dibuat pada tanggal 12 Januari 2026 di AZ Farm dengan memanfaatkan  SOCAF Yang dikombinasikan dengan molases dan tepung beras putih,kemudian difermentasi selama tujuh hari.

Kemudian,.lanjutnya, dedak.aromatik ini diharapkan mampu mampu meningkatkan palatabilitas pakan ternak melalui aroma segar yang dihasilkan ,sehingga berpotensi membantu peningkatan bobot badan ternak.Dan selain sebagai pakan tambahan ,dedak.aromatik juga dapat di manfaatkan sebagai starter dalam pembuatan silase.

Meski.demikian ,produk ini masih akan melalui uji kandungan nutrisi lebih lanjut di kampus sebelum direkomendasikan secara luas kepada peternak.

Lebih lanjut dikatakan, melalui program SOCAF ,tim.KKNT mendorong penerapan.konsep.ekonomi.sirkular sitingkat desa dengan mengubah limbah menjadi sumber daya yang bernilai.guna .Inobasi ini.diharapakan dapat menjadi.solusi alternatif pengelolaan limbah sekaligus mendukung keberlanjutan sektor peternakan masyarakat.

Selain SOCAF,tim KKNT Inovasi IPB University juga melaksanakan program PROMagg,yaitu pengelolaan sampah organik menggunakan agen biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF).Kegiatan ini dilaksanakan pada 21,januari.2026 dan melibatkan perangkat Pekon/Desa ,Kelompok.wanita tani (KWT),penyuluh pertanian lapangan,serta perwakilan dari dinas terkait.

Program ini bertujuan memberikan solusi sederhana penanganan sampah dapur yang berpotensi menghasilkan.sumber protein alternatif bagi ternak.

Untuk dibidang edukasi lingkungan, tim KKNT Inovasi IPB turut menginisiasi program ECO-SORT,yaitu edukasi pemilahan sampah bagi siswa sekolah Dasar, Program yang dilaksanakan pada 13-22 Januari 2026 ini melibatkan 144.siswa dari lima.sekolah dasar(SD) di Pekon Adiluwih dan hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman sebesar 80,83 persen menandakan keberhasilan program dalam menanamkan kesadaran pengelolaan sampah sejak dini.

Perubahan besar kerap dimulai dari kebiasaan yang kecil yang dilakukan secara konsisten ,hal inilah yang ditunjukkan Tim KKNT  Inovasi IPB University yang mana hampir 40 hari berada di Pekon Adiluwih Kecamatan Adiluwih Kabupaten Pringsewu Lampung.

Sejak hari pertama mahasiswa menerapakan pemilahan sampah langsung di.Posko.KKN sebagai bentuk tanggung jawab dan contoh nyata bagi masyarakat.

Dan ditengah keterbatasan fasilitas pengolahan samapah serta ketiadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS),para mahasiswa membagi sampah harian kedalam.lima katagori yakni organik,plaatik,kertas,botol plastik,dan residu.

Sampah organik kemudian dimanfaatkan sebagai pakan maggot dalam program “Promisi Ubah Sampah Jadi Protein dengan maggot (PROMagg), sementara sampah bernilai ekonomi  seperti botol plastik dipilah  untuk di daur. 

Antosias masyarakat terlihat dari kehadiran  perangkat Pekon/Desa, kader PKK, KWT, hingga perwakilan Dinas terkait.Diskusi berkembang tidak hanya soal teknis budidaya maggot,tetapi juga potensi ekonominya sebagai usaha rumah tangga “pungkas nya” (sanusi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *