Senin, Februari 2, 2026
Bandar Lampung

Januari 2026 Lampung Alami Deflasi 0,07 Persen, Angka ini lebih Rendah Bulan Sebelumnya Inflasi 0’59 Persen

Bandar Lampung,hariansatelit.com

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Lampung mengalami deflasi sebesar 0,07 persen (month to month/mtm) pada Januari 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,59 persen (mtm).

Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian nasional yang mengalami deflasi 0,15 persen (mtm). Sementara itu, rata-rata perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Lampung pada Januari dalam tiga tahun terakhir tercatat deflasi 0,11 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Lampung berada di level 1,90 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,55 persen (yoy).

Deflasi Januari 2026 terutama dipicu penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok transportasi. Komoditas utama penyumbang deflasi antara lain cabai merah (-0,25%), bawang merah (-0,12%), cabai rawit (-0,06%), bensin (-0,03%), dan jeruk (-0,03%) (mtm).
Senin (2/2/2026)

Penurunan harga cabai merah dan cabai rawit sejalan dengan meningkatnya pasokan akibat masuknya masa panen di sentra produksi utama, khususnya Kabupaten Pringsewu dan Lampung Timur. Penurunan harga bawang merah dipengaruhi peningkatan pasokan saat panen serta realisasi kerja sama perdagangan antardaerah (KAD) B2B antara BUMD Jawa Tengah dan Lampung.

Dari sisi nonpangan, turunnya harga bensin dipicu penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh Pertamina. Meski demikian, deflasi lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, makanan, minuman, dan tembakau, serta jasa penyediaan makanan dan minuman.

Komoditas penyumbang inflasi di antaranya emas perhiasan (0,08%), tomat (0,05%), kangkung (0,04%), bayam (0,03%), dan nasi dengan lauk (0,03%) (mtm). Kenaikan harga emas perhiasan sejalan tren kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian global.

Sementara kenaikan harga tomat, kangkung, dan bayam dipicu penurunan produksi di daerah sentra akibat tingginya curah hujan.
Ke depan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung memperkirakan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen (yoy) pada akhir 2026. Namun, sejumlah risiko perlu diwaspadai, antara lain:

Dari sisi inflasi inti:
Peningkatan permintaan akibat penyesuaian UMP dan meningkatnya mobilitas saat Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan ekonomi global.

Dari sisi volatile food:
Curah hujan tinggi dan risiko banjir yang berpotensi mengganggu panen dan distribusi pangan. Potensi kenaikan harga pangan saat Ramadan dan Idulfitri. Gangguan distribusi akibat bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera.

Dari sisi administered prices:
Kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik. Normalisasi tarif angkutan pasca berakhirnya diskon dan insentif PPN DTP.

Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung terus memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Upaya yang dilakukan antara lain operasi pasar beras, monitoring harga dan pasokan, perluasan Toko Pengendalian Inflasi, penguatan kerja sama antardaerah, percepatan program swasembada pangan, peningkatan kapasitas transportasi, perbaikan infrastruktur jalan distribusi pangan, hingga penguatan sistem informasi neraca pangan serta komunikasi publik melalui media digital. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *