Gubernur Lampung Kunjungan Kerja ke Kabupaten Lampung Barat
Lampung Barat,hariansatelit.com
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal melakukan kunjungan kerja ke Pekon Tanjung Raya, Kecamatan SukKabupaten Lampung Barat, Kamis 18 Desember 2025 . Dalam kunjungan tersebut, Gubernur meninjau langsung sentra sayur-mayur dan menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk melindungi stabilitas harga jual petani serta mempercepat program hilirisasi pertanian.
Di hadapan para petani dan jajaran pemerintah daerah setempat, Gubernur Mirza menyoroti ironi yang kerap dialami petani hortikultura. Meskipun tanah Lampung Barat sangat subur dengan produksi ribuan ton, kesejahteraan petani sering tergerus akibat anjloknya harga saat panen raya.
Hal ini diperparah dengan masuknya komoditas serupa dari luar daerah yang membanjiri pasar lokal.
”Ke depan, pasar harus dikendalikan. Selama petani Lampung Barat sedang panen raya, pasar di seluruh Lampung harus menyerap hasil dari sini terlebih dahulu. Dinas Perdagangan harus menjaga pasar kita, jangan sampai barang luar masuk saat petani kita sedang panen yang mengakibatkan harga hancur,” tegas Gubernur.
Jum”at (19/12)2025
Gubernur mencontohkan fluktuasi harga pada komoditas cabai dan kol yang kerap merugikan petani hingga ke level harga yang tidak masuk akal. Oleh karena itu, proteksi pasar lokal menjadi prioritas utama dalam strategi tata niaga pertanian provinsi ke depan.
Selain tata niaga, Gubernur Mirza juga menyampaikan solusi konkret untuk menekan biaya produksi petani melalui program “Desaku Maju”. Pemerintah Provinsi menargetkan tahun depan seluruh desa di Lampung akan mendapatkan fasilitas dan suplai pupuk organik cair secara gratis.
”Dengan pupuk organik cair ini, kita targetkan produksi meningkat 15-20 persen, sekaligus memangkas ketergantungan petani pada pupuk kimia,” jelasnya.
Terkait hilirisasi, Gubernur menekankan pentingnya pengolahan pasca-panen dilakukan di dalam daerah untuk menjaga nilai tambah ekonomi. Ia menyoroti fenomena gabah Lampung yang seringkali dibawa keluar daerah untuk digiling, sehingga Lampung kehilangan potensi ekonomi dari produk turunan beras.(Herwan)
