Minggu, Agustus 31, 2025
Lampung Selatan

Peringati HUT Desa ke-56, Pemdes Margo Mulyo Gelar Wayang Kulit Semalam Suntuk

Jati Agung, hariansatelit.com

Dalam rangka memperingati HUT Desa ke-56 dan HUT RI ke-80, Pemerintah Desa Margo Mulyo Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan menggelar pertunjukan Wayang Kulit semalam suntuk dengan cerita Sesaji Raja Suya dibawakan oleh Ki. Rohmat Rismanto, S.Sn dari Jogyakarta di Dusun 1, Sabtu (30/8/2025) malam.

Sebelumnya dilakukan berbagai macam perlombaan dan pembagian hadiah dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Kepala Desa Margo Mulyo Susanto.

Ribuan masyarakat dari yang tua hingga anak-anak menikmati sajian wayang kulit yang dinanti nantikan.

Tujuannya adalah untuk menghidupkan kembali seni budaya tradisional, sekaligus memberikan hiburan bagi masyarakat.

Acara ini juga menunjukkan kepedulian Pemerintah Desa terhadap aspirasi warganya yang merindukan pertunjukan seni budaya.

Kepala Desa Margo Mulyo Susanto menyampaikan rasa bangga dan terima kasihnya atas dukungan perangkat desa dan antusiasme warga.

“Saya sangat merespons positif acara ini dan berharap di tahun depan, kita bisa mengadakan acara seni budaya yang lebih baik lagi,” ujar Susanto.

Susanto mengatakan, kalangan masyarakat jawa masih mengenal bulan-bulan sakral dan sering diadakan sebagai momentum untuk pelaksanaan upacara adat.

Salah satunya adalah tradisi yang dilakukan pada peringatan HUT desa yang ke-56.

“Peringatan HUT desa yang ke-56, merupakan prosesi kegiatan yang dilakukan masyarakat sebagai wujud Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan karunianya. Tradisi yang banyak dilakukan ini telah berlangsung secara turun temurun, dan dalam perkembangannya kemudian telah menjadi salah satu ikon budaya Jawa yang diminati masyarakat,” katanya.

Pegelaran wayang kulit semalam suntuk ini sangat penting dalam upaya bersama untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa. Didalamnya memuat berbagai nilai luhur yang berkaitan hubungan antara manusia dengan manusia (kemasyarakatan), manusia dengan alam semesta, maupun manusia dengan Tuhan. Nilai-nilai luhur itu termanifestasikan dalam berbagai bentuk, baik kegiatan yang dilakukan, maupun makna pada perlengkapan upacaranya.

“Nilai-nilai luhur itu tidak mungkin dapat ditangkap dan dimengerti apabila tidak mampu menghayati terhadap eksistensi perayaannya. Untuk itulah, kiranya perlu dukungan yang optimal, selain dari kelompok masyarakat sendiri sebagai pelaku, juga dari berbagai pihak, agar pegelaran wayang kulit semalam suntuk ini dapat dilestarikan sekaligus dikembangkan sesuai dengan sikap hidup dan pandangan budaya Jawa,” pungkasnya.

Lebih lanjut Susanto menjelaskan pagelaran wayang kulit semalam suntuk ini dikalangan masyarakat Jawa banyak yang memperingati dengan mengambil cerita yang berkaitan dengan momentum HUT desa.

Hal tersebut sesuai dengan tujuan pelaksanaan Program Pengembangan Nilai Budaya, Kegiatan Pelestarian kepercayaan dan Tradisi, sekaligus melestarikan budaya tradisional yang memuat ajaran dan nilai-nilai budi pekerti luhur. (Mar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *