Warga Lampung Timur Patungan Rp 100 Ribu Bangun Jalan 4 Km
Lampung Timur, hariansatelit.com
Masyarakat Dusun 15 dan Dusun 16, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sribawono, Kabupaten Lampung Timur, Lampung, nekat membangun jalan lingkungan mereka secara swadaya menggunakan uang hasil patungan dari kantong warga sendiri.
Dalam pelaksanaan proyek penataan lingkungan ini, sama sekali tidak ada sepeser pun anggaran pemerintah yang turun untuk membiayai pembangunan tersebut. Jalan yang selama ini menjadi harapan besar warga setempat dicor total menggunakan sumbangan sukarela masyarakat dengan nominal rata-rata Rp 100.000 hingga Rp 250.000 per kepala keluarga.
Tokoh masyarakat Dusun 15, Rahmat Suwondo, mengatakan bahwa gerakan pembangunan jalan itu pada awalnya merupakan inisiatif murni dari para pemuda yang diprakarsai oleh kelompok Garda Ngogosari dan kemudian langsung mendapat dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat.
“Ini murni inisiatif pemuda Dusun 15 yang diprakarsai Garda Ngogosari dan didukung masyarakat. Setiap musyawarah saya selalu sampaikan, ini murni keikhlasan warga untuk membangun lingkungan yang lebih baik,” kata Rahmat kepada wartawan pada Minggu (19/7/2026).
Dana pembangunan dikumpulkan dari iuran sukarela warga. Setiap kepala keluarga menyumbang mulai Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu sesuai kemampuan masing-masing.
Tokoh masyarakat Dusun 15, Rahmat Suwondo, mengatakan pembangunan tersebut merupakan inisiatif para pemuda yang diprakarsai Garda Ngogosari dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
“Ini murni inisiatif pemuda Dusun 15 yang diprakarsai Garda Ngogosari dan didukung masyarakat. Setiap musyawarah saya selalu sampaikan, ini murni keikhlasan warga untuk membangun lingkungan yang lebih baik,” kata Rahmat.
Rahmat menjelaskan, dari target pembangunan jalan sepanjang sekitar 4 kilometer, sebanyak 2 kilometer telah selesai dicor. Sementara sisa jalan akan dikerjakan secara bertahap mengikuti kemampuan penggalangan dana warga.
Menurutnya, keputusan membangun jalan secara mandiri diambil karena warga sudah terlalu lama menantikan perbaikan akses tersebut.”Masyarakat sangat mengimpikan jalan ini bagus. Karena mungkin menunggu cukup lama, akhirnya muncul inisiatif untuk melakukan pengecoran secara swadaya,” ujarnya.
Senada dengan itu, warga setempat, Sariman, mengatakan seluruh biaya pembangunan berasal dari hasil gotong royong masyarakat yang tinggal di sepanjang ruas jalan.
“Ini murni dari masyarakat, gotong royong. Setiap rumah ikut berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing. Yang terpenting kami punya semangat yang sama, yakni ingin memiliki jalan yang lebih baik,” kata Sariman.
Ia menambahkan, warga sepakat tidak ingin terus menunggu hingga kondisi jalan semakin rusak. Karena itu, mereka memilih mengumpulkan dana secara swadaya agar pembangunan bisa segera dilakukan. (Nasir)
