Prof. Dr. Anuar Sanusi Pendidikan Berbasis Kehidupan Nyata Perlu Jadi Arah Transformasi Sekolah
Bandar lampung,hariansatelit.com
Sistem pendidikan di Indonesia perlu bertransformasi dengan mengedepankan pengembangan kompetensi kehidupan (life skills), tidak hanya berorientasi pada capaian nilai akademik. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Anuar Sanusi, S.E., M.Si., Direktur Direktorat Pengembangan Institusi dan Kampus Berdampak sekaligus Dosen Kampus Unggul Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, dalam kajiannya mengenai sistem pendidikan berbasis sekolah yang berorientasi pada kehidupan nyata.
Menurut Prof. Anuar Sanusi, pendidikan yang berkualitas tidak hanya menghasilkan peserta didik dengan prestasi akademik tinggi, tetapi juga membentuk karakter, keterampilan sosial, kemampuan memecahkan masalah, serta ketangguhan mental yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan kehidupan dan dunia kerja.
“Ada tiga aspek yang harus menjadi perhatian utama dalam sistem pendidikan, yaitu kemampuan sosial, kemampuan menyelesaikan masalah secara mandiri, dan kepercayaan diri atau mental resilience.
Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi keberhasilan seseorang dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun profesional,” ujarnya saat diwawanacarai awak media Rabu 1 Juli 2026.
Ia menjelaskan, kemampuan sosial dapat dikembangkan melalui pembelajaran kolaboratif, diskusi kelompok, organisasi siswa, hingga kegiatan yang melibatkan masyarakat. Menurutnya, dunia kerja saat ini lebih membutuhkan individu yang mampu bekerja sama dan berkomunikasi secara efektif dibandingkan mereka yang hanya unggul secara akademik.Kamis (2/7/2026)
Selain itu, sekolah juga perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah melalui studi kasus, proyek, eksperimen, maupun simulasi yang dekat dengan kehidupan nyata.
“Peserta didik perlu dibiasakan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi. Kemampuan problem solving menjadi salah satu kompetensi utama yang dibutuhkan di era globalisasi dan transformasi digital,” katanya.
Prof. Anuar Sanusi juga menyoroti pentingnya membangun kepercayaan diri dan ketangguhan mental sejak dini. Menurutnya, peserta didik harus memiliki keberanian menghadapi kegagalan dan mampu bangkit untuk terus berkembang.
Ia mencontohkan keberhasilan Singapura yang mampu menjadi negara maju melalui investasi besar di sektor pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, meski memiliki keterbatasan sumber daya alam. Menurutnya, pembangunan SDM yang unggul menjadi kunci daya saing suatu bangsa.
Sebaliknya, ia menilai Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan potensi sumber daya manusia. Salah satunya adalah belum optimalnya sistem yang mampu menarik kembali talenta terbaik Indonesia setelah menempuh pendidikan atau berkarier di luar negeri untuk berkontribusi bagi pembangunan nasional.
Prof. Anuar Sanusi menilai sistem pendidikan Indonesia saat ini masih cenderung berorientasi pada nilai dan hasil ujian.
Akibatnya, pengembangan karakter, keterampilan sosial, kemampuan beradaptasi, dan ketangguhan menghadapi tantangan belum memperoleh porsi yang seimbang.
Karena itu, ia mendorong transformasi sistem pendidikan berbasis sekolah yang lebih berorientasi pada kehidupan nyata.
Sekolah, menurutnya, tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi juga bagaimana cara berpikir, bekerja sama, mengambil keputusan, serta bangkit ketika menghadapi kegagalan.
“Nilai akademik tetap penting, tetapi keberhasilan seseorang dalam kehidupan tidak hanya ditentukan oleh angka di rapor.
Pendidikan harus mampu menghasilkan generasi yang memiliki karakter, kompetensi, kemampuan sosial, keterampilan memecahkan masalah, dan ketangguhan mental sebagai bekal menghadapi tantangan abad ke-21 yang semakin kompleks dan kompetitif,” tutupnya.(Herwan)
