Program MBG di Lampung Realisasi 100% dengan Cakupan Terserap 2,3 Juta Penerima Manfaat
Bandar Lampung,hariansatelit.com
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Lampung mencatat realisasi 108 persen dengan 2,3 juta penerima manfaat, tertinggi secara nasional dari sisi proporsionalitas.
Capaian tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menjelaskan hasil evaluasi pelaksanaan MBG di daerah.
“MBG kita sudah mencapai seratus delapan persen. Ada 2,3 juta penerima manfaat MBG di Lampung. Alhamdulillah, capaian kita saat ini menjadi nomor satu secara nasional secara proporsionalitas,” ujar Gubernur Mirza. Selasa 27Januari 2026
Gubernur Mirza menyampaikan, Pemerintah Provinsi Lampung saat ini tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG, seiring dengan pemerintah kabupaten dan kota yang juga menyiapkan program pembangunan daerah masing-masing.
“Kami melakukan evaluasi dan kebetulan pemerintah kabupaten dan kota juga sedang membuat program-program kabupaten/kota setempat,” kata dia.
Menurut Mirza, arah kebijakan MBG ke depan tidak hanya difokuskan pada penyaluran makanan, tetapi juga pada dampak ekonomi yang dihasilkan.
Pemerintah Provinsi Lampung mendorong agar MBG terintegrasi dengan program daerah, khususnya dalam upaya penurunan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja.
“Kita ingin program ke depan ini bisa terintegrasi dengan MBG. Kita ingin ada evaluasi bagaimana MBG itu bisa menurunkan kemiskinan, membuka lapangan pekerjaan, dan supply chain-nya berasal dari daerah-daerah setempat. Itu yang akan kita fokuskan di 2026,” ujar dia.
Ia menegaskan, seluruh pelaksanaan MBG harus tetap mengacu pada standar operasional prosedur (SOP), baik dari sisi infrastruktur, kualitas bahan pangan, maupun proses penyediaan makanan.
“Saya sudah tekankan untuk sesuai SOP. Infrastrukturnya harus baik, kualitas bahan makanan, dan lain-lainnya juga harus baik,” kata Mirza.
Namun, Gubernur Mirza mengakui masih terdapat tantangan dalam pemenuhan kebutuhan MBG di tingkat desa. Dengan kebutuhan sekitar 3.000 omprengan per desa setiap hari, sebagian bahan pangan masih dipasok dari luar wilayah setempat (Herwan)
