SMP Batanghari 9 Jati Agung Terancam Tutup
Jati Agung, hariansatelit.com
SMP Swasta Batanghari 9 di Desa Sinar Rejeki, Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan terancam tutup. Pasalnya, murid yang mengeyam pendidikan di sekolah tersebut sangat minim.
Bukan hanya itu, gedungnya juga sudah sangat memprihatinkan, bahkan bakal berubah menjadi dapur memasak Program Makan Bergizi Gratis (MBG), satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
Pada Rabu (26/11/2025) sekira pukul 10.00 WIB di halaman sekolahan terdapat 7 orang siswa; lima diantaranya kelas 9 dan 2 siswa lainnya kelas 8. Salah seorang siswa kelas 9 mengatakan satu kelas sebanyak 10 orang siswa. “Satu kelas 9 hanya 10 orang,” kata salah seorang siswa yang diamini siswa lainnya.
Sementara murid kelas 8 mengaku satu kelas ada 5 orang siswa. Ketika ditanya temanmu satu kelas ada berapa orang, dia, menjawab ada 5 pak,” ucap dia.
Namun anehnya, salah seorang dewan guru mengatakan siswa SMP Swasta Batanghari 9 sebanyak 60 orang, dengan rincian kelas 7 sebanyak 20 siswa, kelas 8 sebanyak 20 siswa dan kelas 9 sebanyak 20 siswa.
Keterangan dewan guru yang mengaku tinggal di Desa Sumberjaya itu dibantah oleh Wakil Kepala Sekolah Ira. Dia menyatakan dengan tegas jumlah murid seluruhnya sebanyak 38 orang. Namun sayangnya Ira tidak mau merinci lebih lanjut.
Apabila jumlah murid semakin merosot, tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat sekolahan yang dibangun atas swadaya masyarakat itu akan tutup. Keputusan pahit dengan menutup sekolah harus diambil dengan melihat berbagai kondisi. Pihak pengelola, yayasan, hingga guru yang dinilai gagal dalam mengelola yayasan dan sekolahan tersebut.
Bahkan SMA Karya Bakti yang lokasinya bersebelahan sudah tutup beberapa tahun sebelumnya. Tidak menutup kemungkinan SMP Batanghari 9 dalam waktu dekan juga akan menyusul.
LSM Pemerhati Pendidikan Mistorani mengatakan pada tahun sebelumnya SMP Batanghari 9 dan SMA Karya Bakti sempat mengalami kejayaan, namun belakangan jumlah murid yang mendaftar ke sekolahan tersebut kian merosot tajam.
“Itu artinya pihak pengelola, yayasan dan guru tidak bekerja secara maksimal. Buktinya banyak sekolah swasta yang ada di Jati Agung dikelola secara profesional berkembang pesat.
Mistorani mengatakan kalau minat calon sisa yang mendaftar di SMP Batanghari 9 alasan sistem zonasi penerima peserta didik baru (PPDB) juga tidak masuk akal, karena jarak sekolah negeri ke SMP Batanghari 9 sangat jauh.
“Bahkan banyak sekolah swasta lainnya yang baru berdiri kini jumlah muridnya makin meningkat. Ini pengelola, yayasan dan dewan guru sepertinya ada yang salah, tapi mungkin tidak pernah dievaluasi,” tegasnya.
Dia menjelaskan, apabila ditilik dari sekolah SD yang menjadi penyangga SMP Batanghari 9 juga cukup banyak. “Jadi tidak ada pengaruhnya dengan penerapan sistem zonasi PPDB siswa yang mendaftar menjadi berkurang,” katanya.
Dia mengatakan disanakan ada pengawas sekolah, ada korwil yang membawahi Kecamatan Natar dan Jati Agung. “Apa pengawas dan Korwilnya tidak pernah ke lapangan lalu membuat laporan ke Dinas ya,” tanyanya.
Dia meninta kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan untuk mengevaluasi kembali izin SMP Batanghari 9 dengan kondisi siswa dan bangunan yang sangat memprihatinkan. ‘Saya minta Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan untuk mengevaluasi kembali izin pendirian SMP Batanghari 9,” tegasnya.
Menurut warga beberapa tahun yang lalu sekolahan tersebut dibangun atas inisiatif masyarakat lantaran sekolah yang ada di Kecamatan Jati Agung sangat jauh dari Desa Sinar Rejeki. “Kasian anak-anak yang mau sekolah, makanya masyarakat melakukan musyawarah mendirikan sekolah,” katanya. (Mar)
