{"id":38581,"date":"2026-10-27T13:48:58","date_gmt":"2026-10-27T13:48:58","guid":{"rendered":"https:\/\/hariansatelit.com\/?p=38581"},"modified":"2026-10-27T13:49:08","modified_gmt":"2026-10-27T13:49:08","slug":"lagi-pamswakarsa-pt-indo-lampung-rusak-tanam-tumbuh-milik-warga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/2026\/10\/27\/lagi-pamswakarsa-pt-indo-lampung-rusak-tanam-tumbuh-milik-warga\/","title":{"rendered":"Lagi, Pamswakarsa PT Indo Lampung Rusak Tanam Tumbuh Milik Warga"},"content":{"rendered":"<p>Tulang Bawang, hariansatelit.com<\/p>\n<p>Ketegangan terjadi kembali ditepi sungai Tulang Bawang, Lampung, Kampung  Bangun Rejo dan Kampung Penawar, dengan kedatangan rombongan pihak PT. Indo Lampung Perkasa (ILP)  menurunkan pamswakarsa lebih banyak lagi dari hari pertama. Perkiraan mencapai 800 orang yang terdiri dari petugas keamanan dan pekerja, lalu melakukan penebangan tanaman kelapa sawit, karet, dan pengrusakan gubuk milik warga secara brutal, Senin (27\/10\/2026). <\/p>\n<p>Kedatangan rombongan perusahaan dinilai sangat arogan dan sudah abaikan musyawarah. Mereka bertindak membabi buta tanpa memiliki sedikit pun hati nurani. <\/p>\n<p>Sedangkan dari pihak pemerintah belum mengeluarkan keputusan secara resmi bahwa lahan tersebut memang masuk wilayah HGU. <\/p>\n<p>Yunita seorang ibu rumah tangga warga Bangun Rejo, sampai menangis histeris melihat tindakan  yang dilakukan oleh pihak perusahaan. <\/p>\n<p>Dirinya berharap kepada pemerintah untuk membantu bertindak untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka alami.<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/hariansatelit.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261027-WA0039-173x300.jpg\" alt=\"\" width=\"173\" height=\"300\" class=\"alignnone size-medium wp-image-38583\" srcset=\"https:\/\/hariansatelit.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261027-WA0039-173x300.jpg 173w, https:\/\/hariansatelit.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261027-WA0039-592x1024.jpg 592w, https:\/\/hariansatelit.com\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/IMG-20261027-WA0039.jpg 720w\" sizes=\"auto, (max-width: 173px) 100vw, 173px\" \/><br \/>\n&#8220;Saya mohon kepada kepada kampung, camat, bupati, gubernur dan presiden agar bisa secepatnya menyelesaikan permasalahan ini, karena tempat ini sudah menjadi sumber kehidupan kami dan anak kami. Kalau kebun kami ditebang, kami mau makan apa, dan kalau gubuk kami dirusak kami mau tinggal dimana. Sedangkan untuk buat gubuk ini saja kami harus pinjam uang koperasi, biar ada tempat tinggal dan tempat usaha kami,&#8221; tukas dia dengan nada sedih.<\/p>\n<p>Tindakan brutal kali merupakan yang kedua kalinya dari pihak perusahaan PT Indo Lampung turun dengan jumlah semakin besar, sedangkan dari pihak pemerintah bungkam tanpa tindakan. <\/p>\n<p>Rohman warga penawar, sangat kecewa dengan pemerintah yang seolah-olah tidak melihat dan tidak mendengar apa yang terjadi. <\/p>\n<p>&#8220;Kita ini seperti tidak ada pemimpin, sudah dua kali dari Indo Lampung turun ke lokasi untuk untuk eksekusi lahan yang sudah menjadi tempat kami makan minum, tidak ada satupun perwakilan pemerintah, baik dari Kepala kampung, Camat, ataupun perwakilan dari pemerintah daerah untuk menjadi penengah dan meluruskan permasalahan yang terjadi dilapangan,&#8221; paparnya. <\/p>\n<p>Selanjutnya ia menegaskan, apakah harus terjadi tumpah darah dulu baru mereka turun. <\/p>\n<p>&#8220;Jangan kalian datang mengunjungi warga, mendatangi setiap rumah warga saat akan mencalonkan diri saja.<br \/>\nSaat situasi seperti ini kalian diam tanpa tindakan,&#8221; tegasnya. (Medi)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tulang Bawang, hariansatelit.com Ketegangan terjadi kembali ditepi sungai Tulang Bawang, Lampung, Kampung Bangun Rejo dan Kampung Penawar, dengan kedatangan rombongan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":38582,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"class_list":["post-38581","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tuba"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38581","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38581"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38581\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":38584,"href":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38581\/revisions\/38584"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38582"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38581"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38581"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/hariansatelit.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38581"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}